Artikel Penelitian Inkonsistensi Harga Gula
Inkonsistensi Harga Gula
Gula merupakan salah satu komoditas strategis yang dimiliki Indonesia sebagai Negara yang terletak di kawasan tropis, komoditas strategis menurut PASKOMNAS (Pasar Komoditi Nasional) adalah barang/jasa yang mempunyai pengaruh besar terhadap perekonomian, atau dengan kata lain produk yang rentan menjadi permainan kartel. Komoditas strategis adalah barang/jasa yang memiliki nilai penting untuk hajat orang banyak, baik dari segi lapangan kerja, maupun jaminan perolehan pangan yang cukup, perlindungan dan dinamisasi kehidupan desa secara berkelanjutan, serta preservasi dan stabilisasi sosial-politik yang sesungguhnya merupakan tujuan utama.Kebijakan impor gula harus ditinjau kembali, sebelum menjadi tindakan yang kontra produktif di tengah upaya pemerintah berpihak kepada petani tebu dan pabrikan gula. Tindakan itu selain inkonsisten, juga mengakibatkan banjir produksi gula di dalam negeri, sehingga merusak harga pasaran gula di pasar lokal. Sehingga kebijakan impor sama sekali bukan langkah yang tepat karena akan memperbesar suplai gula di pasaran. Terlebih lagi masih ada beberapa pabrik gula yang baru berakhir masa gilingnya pada Juli 2015, akibatnya harga gula yang kini mencapai Rp11.000,00 per kg akan terpuruk kembali. "Sebelum keadaan ini memburuk dan merugikan petani, sebaiknya kebijakan itu ditinjau kembali,
Selain itu, kebijakan ini juga bertentangan dengan semangat pemerintah untuk melindungi petani di era perdagangan bebas ASEAN (AFTA). Dimana Indonesia telah memasukkan komoditas gula ke dalam highly sensitive commodity di AFTA, "Ini kontraproduktifnya. Di satu sisi pemerintah ingin memberdayakan petani tebu dengan memasang bea masuk 20-25 persen. Namun, di sisi lain praktik impor ilegal dan kecenderungan manipulasi dokumen tetap berlangsung. Lebih menyedihkannya lagi, banyak instansi memberikan izin impor disertai dispensasi tarif bea masuk 0-5 persen,
Bp. Supri selaku mandor/sinder disalah satu pabrik gula mengatakan, pada tahun 2013/2014 akibat gula rafinasi yg membuat hancur harga gula dipasaran sangatlah merugikan petani diwilayahnya. APTRI atau yang disebut asosiasi petani tebu rakyat indonesia sempat berdemo mengenai subsidi yang diberikan pemerintah yang seharusnya untuk masyarakat khususnya petani namun malah diberikan kepada industri yang seharusnya memakai gula rafinasi tersebut. Maraknya peredaran gula rafinasi yang memasuki komoditas pasar yang kelasnya untuk masyarakat menengah kebawah malah tidak ada upaya dari pemerintah untuk menghentikan peredaran gula rafinasi ke komoditas pasar. Dan lebih mengutamakan industri pabrik yang memakai gula rafinasi. Langkah tersebut sangat membantu untuk meningkatkan kesejahteraan para petani melalui keuntungan yang semestinya atas usaha pertanian mereka, dan bukan membebani akibat kebijakan yang kurang tepat.
APTRI menginginkan agar kebijakan investasi yang saat ini dianut oleh pemerintah supaya ditiadakan karena tidak bersahabat oleh para pengusaha pabrik gula tebu, Selama ini, kebijakan investasi terlalu memanjakan perusahaan pabrik gula rafinasi, sehingga mengakibatkan petani tebu tidak mendapatkan harga jual yang layak. "Kebijakan investasi yang sekarang, para rafinasi itu memperoleh impor gula mentah dan bebas biaya masuk. Sehingga, harga jual gula rafinasi selalu lebih rendah dibanding harga gula tebu petani. Itu yang menyebabkan industri gula berbasis tebu kita makin lama makin hancur. Keberadaan pabrik gula tebu semakin menipis, seiring dengan pertumbuhan perusahaan pabrik gula rafinasi yang mendapatkan banyak investasi. Sementara (pabrik gula) rafinasi itu tumbuh dari cuma satu pabrik pada tahun 1996 dengan kapasitas 150.000 ton, sekarang menjadi 11 rafinasi yang kapasitasnya tujuh juta ton.
Analisis Kondisi
Tahun
|
Land Area in East
Java
(Ha)
|
2004
|
150111
|
2005
|
169338
|
2006
|
183229
|
2007
|
204134
|
2008
|
198599
|
2009
|
198944
|
2010
|
200131
|
Dalam analisa langsung di lapangan pada sistem tanam tebu telah disampaikan informasi yang menjelaskan mengenai tren dalam produktivitas atau perubahan akibat lingkungan atau variabilitas iklim. Produktivitas CCS(Comercial Cane Sugar) mengalami penurunan apabila hasil panen tebu basah. Parameter lainnya adalah curah hujan dalam 30 hari sebelum panen kemungkinan untuk mempengaruhi CCS. Curah hujan dapat mempengaruhi tingkat akumulasi sukrosa dalam tangkai dan akan cenderung meningkatkan tingkat hidrasi.
0 komentar:
Posting Komentar