Materi, Tugas, Artikel, Kuliah dan Umum

Blog Archive

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tampilkan postingan dengan label Gagasan dan Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gagasan dan Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2013

Melanjutkan Pak Muby (Mengenang Sewindu Profesor Mubyarto)



Melanjutkan Pak Muby (Mengenang Sewindu Profesor Mubyarto)
Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Profesor Ekonomi Rakyat, dan Ekonom Pancasila

Oleh : Awan Santosa[1]

Ini penerbangan pertama saya. Yah, begitu istimewa karena bersama Prof Mubyarto (Pak Muby) ke seminar beliau di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Hari yang luar biasa, meski cukup pening dan mual karena berganti empat mode transportasi yang berbeda. Sampai tapal batas Kabupaten Pasir jam lima sore. Sudah terbayang air hangat dan kasur empuk hotel di pelupuk mata. Ah alangkah nikmatnya.

Sampai kemudian Pak Muby bertanya ke aparat Pemda yang menjemput kita, “Pak, di mana ya desa yang paling miskin disini?”. Pertanyaan inilah yang akhirnya membawa kita 30 km dari lokasi semula, 45 menit perjalanan ke pelosok yang berlikunya tiada tara. Meski sedikit mual mesti semangat ‘45, malu saya yang masih muda.

Dan itulah pelajaran Pak Muby. “Semakin sulit kita memperoleh data, maka ia akan semakin berharga”. Sekedar data tanpa impresi maka dalamnya akan kosong belaka. Karenanya, turun ke lapangan dan pelosok desa adalah ajaran yang sangat bermakna. Pak Muby begitu prihatin dengan jiwa-jiwa kosong anak muda, yang lebih sering dijejali statistik dan ekonometrika.

Dan dua tahun kemudian adalah kuliah yang sesungguhnya. Keluar masuk pelosok Kutai Barat, Nganjuk, Gunungkidul, dan Kulon Progo benar-benar menempa, bukan bagi akal pikiran semata, tetapi juga hati dan jiwa. Bukan saja Soekarno yang penyambung lidah rakyat Indonesia, tetapi juga Pak Muby, seorang ilmuwan yang selalu menulis hasil kunjungan lapangnya.

***
Siang itu begitu istimewa. Itulah Seminar Bulanan Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM pertama, yang saya diminta Pak Muby sebagai pembicaranya. Pesertanya pun luar biasa. Ada ekonom dosen saya, mantan menteri dan pejabat di Jakarta, para senior, pemikir, dan aktivis di Yogyakarta. Dan, sungguh terbang berjuta rasanya ketika Pak Muby bilang di saat selesei paparan paper saya, “Bagus…”.

Setiap teringat ini saya tak kuasa membendung air mata. Seminar itu ternyata bukan saja pertama bagi saya, tetapi juga terakhir bersama Pak Muby, guru saya. Seminar itu di bulan Mei 2005, beberapa hari sebelum Pak Muby meninggalkan kita. Kepercayaan kepada yang muda, tidak pernah berhenti mengajarinya. Inilah ajaran Pak Muby yang kian sulit diganti siapapun juga.

Ahh, sampai hati kita menyia-nyiakan warisannya yang begitu berharga. 3 tahun Seminar Bulanan yang tak pernah putus, sungguh luar biasa. Menulis paper dan diskusi dengan sangat bergairah, itulah sejatinya kaum intelegensia. Seperti apapun respon diskusi anak-anak muda didikannya, Pak Muby selalu menjawab dengan antusiasme yang tiada terkira.
***
Hari itu lain dari biasanya. Kuliah Ekstra Ekonomi Pancasila (KEEP) sudah memasuki bulan ketiga. Pagi itu, 20 Mei 2005 Pak Muby akan tampil lagi sebagai pembicaranya. Entah kenapa, saya merasa hari itu Pak Muby tak akan bisa menjadi pembicara. Dan benar saja, setelah beberapa saat menunggu beliau tidak hadir. Saya pun menggantikannya bicara, soal nasionalisme ekonomi Indonesia.

Selang tak berapa lama ada kabar bahwa Pak Muby terkena serangan jantung di pagi harinya. Dalam waktu segera beliau dirawat di RS Sarjito Yogyakarta. Dengan perasaan tak menentu, saya melanjutkan pembicaraan di kelas ekstra. Sampai tengah hari datang berita dari RS Pak Muby berpesan kepada kita semua, peserta kuliah ekstra.

Pak Muby meminta kita membaca beberapa judul buku yang relevan dengan topik kuliah ekstra. Sungguh ini membuat kita semua terhenyak tak percaya. Baru beberapa saat terlepas dari kejadian yang dapat mengancam jiwanya dan beliau langsung ingat soal kuliah ekstra. Kata berhenti dan lupa kiranya sudah terhapus dari kamus hidup Pak Muby.

Dan tak disangka 24 Mei 2005 Pak Muby berpulang selamanya. Sungguh kehilangan seorang Bapak dan Guru yang tak terperi rasa sedihnya. Pejuang yang selalu konsisten di garis pemikiran dan keyakinannya. Sebagai murid mula-mula, di ICU Sardjito saya hanya bisa bertanya dalam linangan air mata, “Siapa lagi yang akan membela saya?”.

***

Beberapa bulan sebelum meninggal Pak Muby dikabarkan menjadi kandidat rektor Universitas Wangsa Manggala (sekarang UMB Yogyakarta). Keadaan berubah ketika terjadi “insiden” disaat Pak Muby berbicara dalam seminar disana. Beliau sangat terpukul dan kecewa. Bukan kebetulan, saya diterima menjadi dosen negeri dpk dan ditempatkan di Universitas Wangsa Manggala.

Kini sewindu telah berlalu meski Pak Muby tak pernah menjadi masa lalu. Segala pujian dan kenangan tak banyak berarti seandainya kita tak lagi sungguh-sungguh melanjutkannya. Setelah jatuh bangun dengan Sekolah Ekonomi Rakyat, Koperasi Ekora, Sentra Ekonomi Kerakyatan (Sekra), dan Perguruan Tinggi Desa (PTDes) yang terhenti di tengah jalan, kini mulai muncul pertanda bahagia.

Bersama kolega di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM saat ini saya merintis Sekolah Pasar, yang menghimpun hingga 100 anak muda dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Gerakan mengajar di Pasar Kranggan-Yogyakarta, Pasar Grabag-Purworejo, dan Pasar Cokrokembang-Klaten ini telah berlangsung sejak setahun yang lalu dengan dukungan pula dari Kementerian Perdagangan Indonesia.

Sebelumnya pun, setahun lebih saya dan kolega berkeliling dari desa ke desa di Sleman, Bantul, dan Kulon Progo untuk merintis DesaMart, ikhtiar kampanye produk desa. Saat ini DesaMart dikelola oleh para sarjana muda dan mahasiswa. Melanjutkan Pak Muby, maka membangun kemandirian desa adalah jalan untuk mengubah Indonesia.

Dan mulai sebulan yang lalu, bersama mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta saya merintis Sekolah Perubahan, Sekolah Desa Mandiri di Desa Argodadi-Bantul, dan Sekolah Koperasi Gula Kelapa di Kec. Bagelen-Purworejo. Melanjutkan Pak Muby, kaum intelegensia

hendaknya menjadi setitik cahaya dalam gelap gulita. Mereka harus berjuang di tengah-tengah rakyat kecil Indonesia.

Demikian halnya kelas perkuliahan yang saya kelola. Sejak semester lalu, perkuliahan saya selenggarakan melalui observasi terhadap ekonomi rakyat Indonesia. Hasil observasi lapang ditulis menjadi artikel pengganti ujian, yang selanjutnya diterbitkan bersama. Buku pertama berjudul “Kecil itu Hebat: Kisah Nyata Perjuangan Ekonomi Rakyat”, saya tulis bersama 40 mahasiswa.

Saat ini pun saya mengelola empat mata kuliah dengan metode serupa. Kuliah yang tidak lagi berkuta di kelas dan statistika. Melanjutkan Pak Muby, maka tak kurang lebih dari 100 mahasiswa saya saat ini sedang melakukan observasi ekonomi dan koperasi rakyat di pesisir, pelosok desa, pegunungan, kampung-kampung, dan medan juang rakyat kebanyakan lain di Yogyakarta dan sekitarnya.

Insya Allah empat buku kerakyatan karya bersama mahasiswa akan terbit dua bulan ke depannya. Seperti yang Pak Muby percaya, intelektualitas dibuktikan dengan karya. Mahasiswa tanpa tulisan sepertihalnya tentara tanpa senjata. Untuk apa? Sekali lagi, melanjutkan Pak Muby, menghapus penjajahan ekonomi, maka mestilah diubah pendidikan ekonomi kita.

***

Tak terasa sudah sejauh ini tulisan saya. Yah, tulisan yang bagi saya begitu istimewa. Beberapa hari yang lalu ketika saya terpikir untuk menuliskannya, disaat memulai yang keluar hanyalah air mata. Tak apalah, air mata adalah pelumas perjuangan kita. Agar revolusi tidak pernah berhenti, dan agar perubahan selalu menjadi pekerjaan harian kita.

Bagi yang terbiasa membaca tulisan dan mendengar pembicaraan saya kiranya akan bertanya-tanya. Bagaimana bisa? Yah. tulisan ini hanya ingin mengungkapkan kepada siapa saja, bahwa pergerakan kita tidak dilandasi ideologi dan akal semata, melainkan juga didasari oleh hati dan cinta.

Mengenang Pak Muby adalah melanjutkan Pak Muby. Tanpa itu, untuk apa?
Dan saya mencari kembali tulisan yang saya buat beberapa hari setelah Pak Muby tiada. Disimpannya di mana saya masih lupa. Tetapi yang pasti saya ingat judulnya, “Maju Terus Ekonomi Pancasila!”.

Yogyakarta, 17 Mei 2013


[1] Dosen negeri dpk di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Peneliti | Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM | Ketua Bidang Diklat Mubyarto Institute, dan Pendiri Sentra Ekonomi Kerakyatan (Sekra), Direktur Iptek bagi Kewirausahaan

ph: 08161691650, web:www.ekonomikerakyatan.com,

email: satriaegalita@yahoo.com

Menuju Masyarakat Neolibera




Berbicara Neoliberal, tentu berbicara sebuah konsep ekonomi yang merupakan bentuk baru dari madzhab ekonomi pasar liberal. Yang mana system ini sebagai sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme. Dimana system ekonomi neo-liberal dapat berjalan dengan bantuan roda kebijakan-kebijan pemerintah, maka dibutuhkan pengemasan paket kebijakan ini dalam bentuk paket kebijakan ekonomi ordoliberalisme, inti kebijakan ekonomi pasar neoliberal adalah sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). 
Dirasakan atau tidak, secara berlahan dan pasti budaya liberal atau Neoliberal yang menuhankan kebebasan individu dan kebebasan pasar semakin menjadi iman dalam kehidupan keseharian masyarakat. Kondisi dimana sebuah tatanan ekonomi tidak lagi merujuk pada konsep kerjasama sempurna namun lebih berkiblat kepada persaingan sempurna sudah semakin jelas ini merupakan indikasi-indikasi bahwa masyarakat sebagai pelaku ekonomi telah meninggalkan konsep ekonomi kerakyatan dan bermigrasi pada ekonomi neo liberal. Keadaan dengan iklim ekonomi seperti ini tentu sangat berbahaya, secara berlahan menjadikan sebuah tatanan perekonomian sebuah bangsa dengan tidak dilandasi keyakinan idiologi bangsa itu sendiri.

Paham neoliberal yang merupakan bentuk baru dari leberalisme yang menekankan sebuah kebebasan individualisme yang tidak dapat di batasi baik oleh lembaga maupun pemerintah suatu negara. Yang melahirkan kebebasan atas kepemilikan aset ekonomi, penumpukan pundi-pundi kepemilikan sumber daya alam yang tidak dapat di kontrol dan tidak lagi menjadi perhatian pemerintah. Ini sungguh berbahaya, mengapa? karena tidaklah ada pengekangan dalam paham ini, jikapun ada tentu konflik yang akan di suguhkan. Dan yang menyedihkan tidaklah warga negara Indonesia yang menguasai aset-aset ekonomi perut bumi pertiwi ini walaupun mereka berkiblat kepada neo liberal, namun justru asing yang berkuasa.

Masyarakat hanya mengikuti sistem, termakan konsep, sedang penerapan penguasaan hanya segelintir orang dan asing pula. Masyarakat hanya menjadi korban dari sytem, menjadi korban dari kebijakan pemimpin negeri ini, menjdi korban dari kerakusan yang meatasnamakan globalisasi. Paham liberal sebagai pendahulu neoliberal membentuk sebuah tatanan masyarakat sekularisme dimana kegiatan keagamaan menjadi barang asing yang diasingkan pula. Dan kemudian yang timbul adalah sebuah agama baru “hedonis” dimana materi dan kesenangan jasmani adalah yang diutamakan. Setiap individu saling berlomba menguras kekayaan alam isi perut bumi tanpa melihat lagi darah juang yang pernah tertumpah, kesenjangan sosial ekonomi tidak lagi menjadi perhatian, justru semakin terbentuk.

Jika konsep liberal dan neoliberal yang melanda masyarakat kita, walau saat ini dalam sekala kecil dan sekedar dalam perasukan pola pikir, namun jika di diamkan tentu akan menjadi sebuah masalah besar dikemudian hari. Dan siapa yang bertanggung jawab atas masuknya konsep neoliberal ke bumi darah juang ini tentulah pemerintah, dan sudah pasti menjadi bagian yang harus bertanggung jawab, karena segala bentuk paham yang masuk segala bentuk system yang berkembang adalah berdasarkan karbulator kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk menghianati amanat konstitusi dan mengibarkan bendera penjajahan modern.

Desain pembangunan ekonomi di Indonesai sampai sekarang masih menggunakan madzhab ekonomi liberaldan neo liberal, Karena ilmu ekonomi yang diajarkan pada hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia dibangun di atas kerangka kapitalisme, maka sesungguhnya sulit dielakkan bila 99,9 persen ekonom Indonesia memiliki kecenderungan untuk menjadi penganut neoliberalisme.

Tentu tidak mudah untuk kembali mengimani pancasila dan uu 1945, untuk kembali menjadi Indonesia, namun akan lebih tidak mudah jika paham-paham yang tidak seharusnya menjadi panutan anak cucu kita terus disuguhkan. Kemerdekaan ekonomi milik seluruh rakyat indonesia, bukan perorangan, bukan golongan. Bukan kebebasan merampok perut bumi yang diamanatkan pendiri bangsa, namun persatuan, kesatuan dan kerjasama untuk mengelolanya.

Ayo Bangun Perguruan Tinggi Desa (PTDes)




Perjalanan riset saya di desa-desa Indonesia menemukan masalah mendasar berupa lemahnya penguasaan rakyat desa atas ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah ini telah lama berimplikasi pada kelambatan inovasi bisnis, kecilnya nilai tambah ekonomi, dan ketergantungan desa pada perantara dari luar desa, pun termasuk perguruan tinggi dan LSM. Keberdikarian dan keahlian orang desa yang dahulu pernah mewujud telah memudar dan berganti oleh dominasi korporasi swasta besar dari luar desa.

Ribuan fakultas di perguruan tinggi se-Indonesia kiranya belum sepenuhnya mampu menjawab akar persoalan ekonomi rakyat desa tersebut. Sedikitnya kisah sukses desa mandiri seakan menjadi pertanda pendidikan tinggi kita yang belum sepenuhnya berorientasi pada keberdikarian desa. Alih-alih itu, jiwa keberdikarian perguruan tinggi justru masih menjadi tanda tanya manakala terjadi penetrasi institusional Bank Dunia dan Pemerintah AS di beberapa perguruan tinggi kita.

Banyak anak-anak muda desa yang telah dididik di perguruan tinggi kita tetapi sebagai besar justru menjadi lupa dengan jatidiri dan tugas mulianya untuk kembali membangun desa. Sebagian mereka bahkan lebih bangga berdasi meski hanya untuk sekedar menjadi buruh korporasi dari luar negeri. Pun sebagian lagi telanjur tercerabut dari akar mereka di desa, namun tak juga mendapat tempat di pasar tenaga kerja, sehingga menambah panjang deret pengangguran terdidik di negeri ini.

Pendidikan kita tak kunjung mampu merombak pola relasi yang timpang antara desa dan kota. Desa dengan segala kekayaannya masih menjadi pemasok yang setia bagi kemakmuran masyarakat kota dengan kontraprestasi yang tidak sepantasnya. Telah begitu banyak hutan dan kebun yang ditumbuhkan, pun tak terhitung lagi jutaan ton aneka mineral dan tambang yang dikeruk dari desa, sementara mayoritas penduduk miskin masih tertinggal di desa, dan marjinalisasi terus terjadi di sana.

Melihat berbagai situasi ini kiranya kita perlu berhitung ulang atas peran perguruan tinggi atas kemajuan desa. Pola relasi yang selama ini terbangun di mana prakarsa transfer iptek selalu datang dari luar desa perlu ditinjau ulang dengan semangat tranformasi kuasa pengetahuan oleh rakyat desa. Efektifitas proses tersebut sangat ditentukan oleh keberhasilan penguasaan metodologi pengembangan iptek oleh mereka, di mana mereka lah yang akan merancang tata kelola pengetahuan dan pembangunan di wilayah desa.

Berlatar belakang itulah saya membayangkan model pendidikan alternatif yang saya sebut dengan “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)”, yang selanjutnya dapat diberi nama secara khusus semisal Sekolah Tinggi Sriharjo (Sriharjo College), Argosari Cllege, dan sebagainya. Dalam PTDes maka rancang bangun pendidikan yang berbasis kemakmuran dan keberdikarian desa dilakukan secara kolektif oleh masyarakat desa.

Pun semua keahlian yang diperlukan untuk membangun desa disedikan oleh PTDes yang akan mendisain kurikulum, merekrut tenaga pengajar dari dalam dan luar desa, serta menyelenggarakan bermacam pendidikan dan pelatihan aplikasi iptek yang diperlukan seluruh warga desa. PTDes ini kiranya sejalan dengan perluasan peran desa yang menjadi semangat RUU Desa yang akan segera disahkan oleh Pemerintah dan DPR.

PTDes inilah yang akan merebut kuasa iptek yang selama ini didominasi oleh elit-elit akademisi di pusat kota bahkan di luar negara. Ialah juga akan mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli produktif desa yang memiliki keahlian spesifik semisal di bidang teknik, usaha, sosial-politik, hukum, dan kesehatan untuk diabdikan sepenuhnya bagi kemajuan dan keberdikarian masyarakat desa. Tugas mulia mereka adalah memobilisasi penggunaan potensi sumber daya domestik desa dengan penguasaan iptek mereka.

PTDes akan menjadi media revolusi kebudayaan (kesadaran) dan persemaian keahlian warga desa, semisal dalam inovasi energi berbasis tenaga surya, mikro-hidro, sampah, dan kotoran ternak. Pun ia akan menjadi inkubator pemikiran dan perencanaan tumbuh kembangnya bisnis koperasi, ekonomi rakyat desa, trading house, klinik kesehatan, keuangan mikro, wisata desa, industri rumah tangga dan industri desa, serta berbagai inovasi berbasis iptek lainnya.

Model seperti ini telah berhasil dilakukan di India oleh Bunker Roy dengan Bare-foot College-nya yang sudah membuat warga desa mampu menguasai energi berbasis tenaga surya. Bare-foot college juga telah mendidik warga desa untuk memiliki keahlian professional sepertihalnya teknisi, guru, akuntan, dan sebagainya, seperti yang biasa dilakukan lembaga pendidikan formal di kota-kota besar. Lebih dari itu Roy telah mengenalkan model Sekolah Malam (Night School) bagi anak-anak desa yang karena keterbatasan keluarga harus bekerja di siang hari.

PTDes yang dimiliki dan dikelola secara kolektif oleh masyarakat desa akan menjadi konsultan bagi rencana pembangunan desa dan berbagai program (project) yang masuk ke desa. Ialah yang akan membantu mengarahkan proses transformasi desa melalui rancang bangun pemajuan dan pemandirian desa selama kurun waktu 5-10 tahun depan. Pada akhirnya melalui PTDes lah masyarakat desa sanggup dengan penuh wibawa mengucapkan selamat tinggal pada Bank Dunia. Cukup sudah utang-utang lunak yang harus dikompensasi mahal dengan terkurasnya kekayaan alam Indonesia.

Pada awalnya disain PTDes dirancang se-sederhana mungkin dengan mempertimbangkan kapasitas sumber daya desa. Pendanaan dapat dilakukan melalui dukungan APBDes, dana pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM nasional. Dalam pelaksanaan programnya maka PTDes dapat berkerjama dengan berbagai perguruan tinggi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), BPPT, Dinas Pendidikan, dan LSM, tentu dengan perencaan kolektif yang didasarkan pada kebutuhan dan rencana kerja PTDes.

Dalam pada itu, sesuai dengan tuntutan perubahan peran perguruan tinggi di atas, maka tugas mulia kita adalah melembagakan pendidikan alternatif tersebut melalui fasilitasi pendirian PTDes. Perguruan tinggi lah yang akan mengajari calon-calon pengelola PTDes bagaimana mendisain kurikulum, metode pembelajaran, rekruitmen ahli, dan proses penyelenggaran pendidikan dan pelatihan sampai pada kebutuhan-kebutuhan detail dan operasional.

Saya sangat memimpikan keberadaan PTDes ini dan akan berupaya sekuat tenaga untuk merealisasikannya. Sampai saat ini saya banyak daerah dan kota yang saya datangi untuk berbicara tentang ekonomi kerakyatan dan keberdikarian ekonomi desa. Sayangnya kebanyakan undangan tersebut berasal dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan LSM, bahkan mungkin tak pernah sekali pun yang berasal dari organisasi rakyat desa, mereka yang selama ini rajin dan rutin kita diskusikan.

Sungguh Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri. PTDes yang memberi kesempatan dan kemampuan masyarakat desa untuk mengelola pengetahuan secara mandiri adalah salah satu alternatif untuk itu. Sungguh saya sangat memimpikan kelak banyak undangan mengajar, seminar, pelatihan, dan diskusi dari organisasi rakyat desa seperti PTDes. Pada saat itulah pertanda sinar kebangkitan kembali rakyat desa Indonesia mulai terpancar dan harapan mereka untuk menjadi tuan di desa sendiri akan segera menjadi kenyataan. Semoga.

[1] Dosen negeri dpk di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Peneliti | Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM | Ketua Bidang Diklat Mubyarto Institute, dan Pendiri Sentra Ekonomi Kerakyatan (Sekra), Direktur Iptek bagi Kewirausahaan
ph: 08161691650, web:www.ekonomikerakyatan.com,
email: satriaegalita@yahoo.com

Ekonomiku..?


| Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana
| Program Study Ekonomi Manajemen 2011

Ekonomiku..?

Indonesia tidak kalah kreativnya dengan negara-negara tetangga, terutama dalam bidang kewirausahaan. Sepertihalnya banyak ide-ide baru, contohnya saja motor buatan asli indonesia yang memang saat ini kebanyakan mereka menyebutnya motor butut, namun dengan kekreativan para bangsa ini mereka bisa menjadikan seperti rumah-rumahan dan banyak yang lainnya termasuk siswa SMK Solo mereka dapat membuat mobil sendiri. Namun kenapa kekreativan oleh anak bangsa ini banyak mereka yang belum bisa menghargai, banyak mereka yang hidupnya terpandang namun mereka lebih memilih karya bangsa lain dibandingkan memilih karya bangsa sendiri.

Sehingga hal ini mengakibatkan bangsa semakin melemah, Indonesia harus bangga karena masih memiliki para pengkreatif yang tetap setia untuk selalu berkarya, meskipun banyak yang tidak menghargai tetapi hal inilah yang mampu membawa nama baik bangsa ini. Sepertihalnya pepatah kuno mengatakan hormatilah orang lain jika kamu ingin dihormati orang lain, pernyataan ini bisa diartikan hormati karya dari seseorang apalagi bangsa sendiri, jika kamu ingin dihormati orang lain termasuk bangsa sendiri.

Dengan keadaan konsumen yang seperti ini membuat para pengkreatif cenderung turun pada tahun ini, hal ini bisa disebabkan karena mereka sudah lelah dengan jerih payah mereka untuk bangsa ini namun bangsa ini sendiri tidak bisa menghargai. Namun saya tekankan untuk para pengkreatif bangsa ini supaya janganlah menyerah untuk selalu tetap berkarya dan berinisiatif, karena sebenarnya orang seperti kalianlah yang dibutuhkan untuk memajukan perekonomian di Indonesia ini.

Ini adalah langkah pertama tidak akan ada langkah kedua, ketiga dan seterusnya tanpa ada langakah pertama jangan mengharap ekonomi bangsa ini mencapai garis finish. Janganlah hidup seperti air yang mengalir, karena kenapa? Karena air selalu mengalirdari tempat tinggi ketempat yang lebih rendah dan apakah hidup semakin hari akan semakin rendah? Begitupun dengan perekonomian di Indonesia apakah semakin hari semakin melemah, maka milikilah tujuan yang tinggi dan cobalah untuk meraihnya. Memang benar semua sudah ditentukan oleh Allah, tapi bukankah Allah lebih menyukai hambanya yang selalu berusaha lebih maksimal, maka dari itu mulai sekarang cari apa yang mampu men-drive diri kita dan ciptakanlah kesempatan.

Jangan menunggu let’s make it happen, seharusnya pemerintah sadar akan hal demikkian apakah ekonomi di Indonesia ini akan semakin maju apabila mereka sealu menambah linknya untuk selalu bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan asing. Sedangkan banyak fakta yang memang benar-benar terjadi di Indonesia ini ketika SDM yang berpotensi di negara sendiri namun oleh bangsa sendiri mereka tidak dibutuhkan, sebaliknya untuk negara lain tenaga-tenaga seperti itulah yang mereka butuhkan lebih dari 5juta penduduk Indonesia yang setiap tahunnya selalu dikirimkan untuk menjadi tenaga kerja negara lain.

Pokok permasalahan tersebut sebagaimana dikemukakan dalam pasal 27 ayat (2) UUD 1945, “Setiap warga negara berhak mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” Dalam pasal tersebut yang dimaksudkan adalah setiap anggota masyarakat dalam proses produksi nasional. Sepertihalnya yang di kemukakan oleh Bung Hatta dalam pasal 33 UUD 1945 ayat (2) yang berbunyi “Cabang- cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.” Pada garis bawah tersebut yang dimaksud barangkali adalah diserahkan kepada badan-badan lain yang dikelola secara otonom-perusahaan negara atau perusahaan swasta yang pekerjaanya dikendalikan oleh pemerintah. 

Kemudian dalam ayat (3) pasal 33UUD 1945 yang berbunyi “Bumi, air dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat disini yang dimaksud adalh kedudukan negara sebagai penguasa bumi,air dan segalanya kekayaan yang terkandung didalamnya sama sekali tidak dimaksudkan untuk meminggirkan rakyat banyak, melainkan untuk menjamin agar pemanfaatan kekayaan alam Indonesia benar-benar dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hal seperti itulah yang di kemukakan dulu oleh Bung Hatta, sungguh luar biasa apabila pasal itu dijalankan benar-benar Indonesia untuk sekarang ini. Tetapi realita berkata lain Indonesia terkenal kaya akan SDA dan banyak akan SDM, namun kenyataannya sampai saat ini Indonesia masih menjadi pemasok tebesar bahan mentah sepertihalnya migas, batubara, emas, CPO, kako dan berbagai produk mentah lainnya. Selain itu juga Indonesia masih menjadi pemasok terbesar tenaga kerja yang di upah murah bagi perusahaan atau pihak-pihak lain didalam dan diluar negri.

Memang keadaan ini sulit untuk ditangani sepertihalnya yang telah dikemukakan oleh dosen saya pak Awan Santosa,SE,M.Sc keadaan ini sepertihalnya ada sebuah tebing yang sangat tinggi dan mengalir air terjun dan dibawahnya terdapat banyak anak kecil yang terhanyut. Solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut memang tidaklah mudah apabila kita terjun langsung untuk menyelamatkan maka kemungkinan besar juga kita akan ikut terhanyut, namun kita juga tidak boleh diam saja solusi yang tepat adalah mencari titik akar permasalahannya, memang tidaklah mudah melainkan tidak cukup jika hanya waktu satu bulan atau dua bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencari titik dari permasalah tersebut banyak sekali hambatan-hambatannya seperti jurang, binatang-binatang buas dan hambatan lainnya.

Akan tetapi kita tidak boleh menyerah agar tidak akan ada lagi korban-korban lainnya. Tentunya generasi muda inilah yang masih memiliki semangat baru, sebuah gambaran dari dosen saya tadilah yang sehingga membuat saya lebih semangat lagi. Tidak ada kalimat telat yang ada hanyalah pertanyaan, have you reached your maximum potensial? And do you want to reach it?